Proklim

Program Kampung Iklim (Proklim)

Program Kampung Iklim (Proklim) pertama kali diluncurkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2011. Program ini digagas untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam melaksanakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Perubahan iklim sendiri diartikan sebagai perubahan pola cuaca dalam kurun waktu yang sangat panjang, mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Perubahan iklim antara lain ditandai oleh terjadinya berbagai peristiwa cuaca ekstrem seperti naik atau turunnya suhu udara, hujan deras, puting beliung atau badai.

Isu perubahan iklim telah menjadi perhatian banyak pihak baik tingkat internasional, regional, nasional dan lokal. Dibutuhkan penanganan dengan memperkuat aksi nyata di tingkat lokal yang dapat berkontribusi terhadap upaya mitigasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta upaya adaptasi untuk meningkatkan kapasitas seluruh pihak dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Adaptasi perubahan iklim merupakan proses untuk memperkuat dan membangun strategi antisipasi dampak keragaman dan perubahan iklim serta melaksanakannya sehingga mampu mengurangi dampak negatif dan mengambil manfaat positifnya. Sedangkan mitigasi merupakan usaha penanggulangan untuk mencegah terjadinya perubahan iklim melalui kegiatan yang dapat menurunkan emisi atau meningkatkan penyerapan gas-gas rumah kaca dari berbagai sumber emisi.

Aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dapat dikembangkan dan dilaksanakan di tingkat lokal mencakup pengendalian banjir, peningkatan ketahanan pangan, penanganan kenaikan muka air laut, pengendalian penyakit terkait iklim, dan lain-lain. Untuk itu, masyarakat pada lokasi minimal setingkat RW/dusun/dukuh dan maksimal setingkat kelurahan atau desa, didorong untuk melakukan aksi-aksi lokal terkait dengan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan. Bagi masyarakat yang berhasil melaksanakan upaya-upaya tersebut, Pemerintah memberikan penghargaan Proklim dan menjadikan lokasi terpilih sebagai model percontohan dalam penerapan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Respons masyarakat terhadap program ini sudah cukup baik. Pada pelaksanaan Proklim tahun 2012, KLH menerima pengusulan 71 calon lokasi Proklim yang tersebar di 15 Provinsi. Pada tahun 2013, jumlahnya meningkat menjadi 180 lokasi yang tersebar di 14 Provinsi. Pemerintah menargetkan terdapat sebanyak 1.000 Proklim pada 2020 yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di Kabupaten Subang, Proklim mulai dilaksanakan pada tahun 2014 melalui kegiatan Sosialisasi Proklim yang dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2014, yang dihadiri perwakilan SKPD terkait dan masyarakat. Adapun desa yang diajukan oleh Kabupaten sebagai Kampung Iklim adalah Desa Cimenteng Kecamatan Cijambe. Di Desa ini terdapat Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Anesta yang aktif melakukan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sejak tahun 2007, diantaranya pembuatan pupuk organik, penampungan air hujan, penanaman melalui sistem teras sering dan tumpang sari, dan reboisasi hutan pinus.

Di masa mendatang diharapkan bukan hanya Desa Cimenteng yang mendapat predikat sebagai Kampung Iklim namun juga desa-desa lainnya, sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam menghadapi isu perubahan iklim.